Pages

Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (Q.S. Fathir:29)

Rabu, 29 Desember 2021

Mengarusutamakan Kembali Nalar Filosofis di Era Disrupsi

sumber gambar: mudabicara.com


Para filsuf, sebagaimana para ilmuwan, membuat beberapa klaim. Akan tetapi, tidak seperti para ilmuwan, para filsuf tidak menggunakan tabung reaksi, teleskop, kamar kabut, atau peralatan lain yang serupa dalam kerja mereka. Ini memunculkan pertanyaan: bukti macam apa yang tersedia untuk mendukung klaim filosofis? Klaim filosofis bersifat spekulatif. Akan tetapi, jika ini berarti bahwa klaim tersebut tanpa dasar, kita mungkin layak bertanya mengapa seseorang harus membuat klaim tersebut dan mengapa ia harus meyakininya dengan tingkat keyakinan yang paling tipis.

 

Mengutip karya orang lain yang telah terbit tentu tidak akan memberi tahu kita tentang dasar macam apa yang dimiliki oleh klaim-klaim filosofis karena ia hanya menangguhkan pertanyaan. Kita sekarang perlu tahu dasar macam apa yang tersedia untuk mendukung klaim-klaim yang tertulis itu. Alasan apa yang dimiliki oleh para pengarang tersebut untuk membuat klaim tersebut? Ada pendapat umum tentang nilai evidensial dari testimoni. Bahkan jika testimoni dapat memberi kita alasan untuk memercayai bahwa proposisi P itu benar, maka sumber terakhir dari testimoni itu—yaitu, filsuf yang membuat klaim tersebut pertama kali—masih harus memiliki alasan lain untuk memercayai bahwa P benar. Kita perlu tahu alasan macam apakah itu.

 

Sekali lagi, merupakan sebuah pelajaran umum yang penting dalam epistemologi bahwa seseorang bisa layak untuk membuat klaim tertentu bahkan jika orang itu tidak memiliki bukti untuk mendukung klaimnya itu.1 Akan tetapi, mungkin tidak semua klaim (bahkan tidak semua klaim filosofis) memiliki status itu. Selain itu, bahkan jika beberapa filsuf bisa membuat sejumlah klaim tertentu tanpa memberikan bukti pendukungnya, dan klaim-klaim itu kemudian saling bertentangan, kita perlu memilih di antara klaim-klaim itu. Di dalam melakukan pemilihan terhadap klaim-klaim yang diajukan, kita dituntut untuk memiliki alasan terhadap pilihan kita sendiri.

 

Semisal kita setidaknya dapat mengidentifikasi beberapa jenis bukti yang mendukung sejumlah klaim filosofis. Persoalannya tidak berakhir di sana karena kita masih perlu mengevaluasi bukti-bukti itu. Kita perlu tahu seberapa baik bukti itu. Di satu waktu orang berpikir bahwa kondisi perut ayam memberi bukti tentang apa yang akan terjadi. Jelas itu bukan cara terbaik untuk memprediksi masa depan. Akan tetapi apakah ada alasan mengapa kita harus mengandaikan bahwa filsuf saat ini lebih sedikit keliru? Ini bukan soal sepele. Beberapa filsuf berpikir bahwa rekam jejak filsafat dalam menemukan kebenaran, yang berbeda dengan mengungkapkan kekeliruan, itu tidak lebih baik dibanding rekam jejak pengujian perut ayam sebagai sebuah petunjuk untuk memprediksi masa depan. Jadi, jika persoalan pertama berkaitan dengan bukti macam apa yang mendukung klaim filosofis, persoalan kedua berkaitan dengan seberapa andal klaim itu—seberapa mungkin klaim itu mengarah pada klaim yang benar yang berbeda dari klaim yang keliru.

 

Fakta bahwa filsuf tidak memiliki laboratorium yang dilengkapi dengan alat pengujian dan pengukuran mungkin mendukung keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkannya dan, secara umum, bahwa para filsuf tidak membutuhkan informasi empiris apa pun di dalam mengembangkan dan mempertahankan pandangan mereka. Alasannya adalah bahwa jika para filsuf itu tidak bersandar pada data empiris, mereka pasti bersandar pada data non-empiris. Jenis data ini pasti merupakan data khusus yang dapat diakses melalui refleksi intelektual di atas kursi. Dan jika hipotesis para filsuf diuji oleh data non-empiris, hipotesis itu sendiri tidak mungkin merupakan hipotesis empiris. Hipotesis itu tidak akan berupa hipotesis tentang dunia empiris, melainkan hipotesis tentang bagaimana kita memikirkan dunia empiris. Ia adalah hipotesis tentang representasi kita atas sesuatu. Filsafat kemudian menjadi sebuah penyelidikan tentang hakikat representasi atau konsep kita tentang sesuatu. Ini merangkum ide tentang filsafat sebagai analisis konseptual dan hipotesis filosofis sebagai klaim tentang seperti apa itu konsep dan bagaimana ia secara niscaya saling terkait dengan konsep lain. Konsepsi filsafat yang seperti ini terus berpengaruh.

 

Namun, rangkaian argumen pada paragraf di atas itu dapat dilawan. Bahkan jika para filsuf tidak memiliki laboratorium dan tidak melakukan eksperimen empiris, itu tidak berarti bahwa data empiris tidak relevan bagi teori filsafat. Data empiris mungkin di[1]butuhkan oleh teori filsafat. Toh, banyak fisikawan teoretis sendiri juga tidak memiliki laboratorium dan tidak melakukan eksperimen empiris. Akan tetapi, mereka bergantung pada hasil dari penelitian laboratorium dan penelitian lapangan para fisikawan eksperimental untuk memperoleh bukti bagi teori-teori mereka.

 

Menurut satu konsepsi tentang filsafat—yaitu naturalisme—hipotesis filosofis itu dapat menerima dukungan empiris (atau bantahan empiris). Dukungan itu sering kali tidak langsung. Bahkan mungkin dukungan itu lebih bersifat tidak langsung dibanding dukungan yang diterima teori fisika level-atas dari pengamatan empiris. Akan tetapi, yang jelas dukungan itu ada. Konsepsi filsafat semacam ini mungkin membuat klaim lebih lanjut tentang dukungan tersebut. Untuk memperkuat, ia mungkin mengklaim bahwa bukti empiris memberi bukti filosofis dalam bentuknya yang terbatas terhadap klaim filosofis; bahwa ia adalah dukungan evidensial terbaik yang dapat dimiliki oleh klaim filosofis; atau bahwa ia adalah satu-satunya dukungan evidensial yang dapat dimiliki oleh klaim filosofis. Kita akan membahas naturalisme dan metodenya secara khusus di bab 6.

 

Sesuatu yang kita pelajari dari pembahasan kita sejauh ini adalah bahwa, tidak seperti banyak disiplin lain, para filsuf tidak hanya tidak sepakat tentang klaim apa yang terjamin, tetapi juga tentang metode apa yang harus digunakan dan data macam apa yang dapat mendukung klaim mereka. Soal metode dan data apa yang seharusnya digunakan oleh filsafat itu menjadi soal yang sama kontroversialnya dengan masalah-masalah lain di dalam filsafat. Buku ini mengambil pendekatan “rel kembar”. Ia mendeskripsikan sejumlah metode dan data yang pernah digunakan oleh para filsuf. Ia juga membahas masalah normatif tentang bagaimana seharusnya metode itu dievaluasi dan seberapa banyak dukungan yang diberikan oleh beragam jenis data kepada klaim filosofis.

 

Dalam membahas masalah normatif ini, tiap-tiap bab berisi studi kasus: contoh aktual tentang bagaimana metode atau jenis data tertentu digunakan untuk mendukung, atau meruntuhkan, klaim filosofis. Buku ini membahas masalah deskriptif dan normatif sekaligus, karena kita perlu kejelasan tentang bukti apa yang diberikan seorang filsuf terhadap klaim tertentu dan juga seberapa andal dukungan itu. Tampak tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menguji metode yang diajukan atau nilai data tertentu selain dengan menelaah seberapa baik ia dalam menyelesaikan masalah filosofis yang rumit. Bertrand Russell pernah mengingatkan kita, “tidak ada nilai apa pun yang dapat dikatakan tentang metode kecuali melalui contoh-contoh” (Russell 1914, 240). Jadi penggunaan studi kasus itu sendiri merupakan sebuah perangkat metodologis yang takterhindarkan di dalam filsafat.

 

Buku ini akan berkaitan dengan tiga pertanyaan besar tentang metodologi filsafat: (P1) Data macam apa yang mendukung hipotesis filosofis dan seberapa besar dukungan yang dapat ia berikan? (P2) Prinsip apa yang mengatur pemilihan hipotesis filosofis? (P3) Hipotesis macam apa yang diandaikan sebagai hipotesis filosofis?.

 

Data bagi hipotesis filosofis yang dibahas dalam buku ini mencakup data yang diberikan oleh pandangan umum atau common sense (bab 1), eksperimen pikiran (bab 3), dan sains (bab 6). Prinsip pemilihan hipotesis filosofis yang dibahas mencakup prinsip analisis (bab 2), kesederhanaan (bab 4), dan penjelasan (bab 5).

 

Persoalan tentang metode dan jenis data yang seharusnya digunakan oleh para filsuf terkait erat dengan pandangan tentang hakikat filsafat. Pandangan-pandangan semacam itu menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai “metafilsafat”: telaah filosofis terhadap filsafat itu sendiri. Analisis konseptual dan naturalisme merupakan contoh dari pandangan metafilosofis yang berbeda. (“Analisis konseptual” dan “naturalisme” sebenarnya sama-sama merupakan istilah umum yang mencakup sejumlah pandangan metafilosofis). Pandangan metafilosofis sulit sekali untuk diperdebatkan. Lagi pula, banyak filsuf juga tidak memperdebatkan, bahkan juga tidak mempertegas, pandangan metafilosofis apa yang mereka pegang. Seringkali apa pun pandangan metafilosofis yang mungkin mereka miliki adalah asumsi latar belakang yang hanya tersirat di dalam karya mereka. Praktik ini dapat dipahami: para filsuf ingin tetap fokus menangani masalah filosofis pada “tatanan-pertama” yang berkaitan dengan hakikat pikiran, kebenaran, dunia fisik, dan semacamnya, bukan masalah pada “tatanan-kedua” yang terkait dengan hakikat filsafat itu sendiri. Akan tetapi, soal hakikat filsafat itu juga masih merupakan wilayah penyelidikan filosofis yang sah. Dan karena pandangan-pandangan kita tentang wilayah ini, dan tentang hakikat problem filosofis sendiri, akan berhubungan dengan bagaimana kita menangani problem filosofis pada tatanan-pertama, problem metafilsafat ini juga layak untuk ditelaah.

 

Meskipun metodologi filsafat berhubungan dengan masalah metafilsafat yang besar, ini tidak boleh menyesatkan kita. Banyak metodologi filsafat terdiri dari pembuatan dan penilaian argumen, distingsi dan kualifikasi. Praktik ini sebagian besar bukan tempat khusus bagi beberapa kelompok metafilsafat tertentu. Sebagian besar, mereka melakukan upaya bersama.

 

Pokok bahasan buku ini adalah problem-problem filosofis, prinsip yang digunakan untuk menyelesaikan problem itu, dan metafilsafat yang mendasarinya untuk merefleksikan problem yang lebih umum terkait kerja teoretis yang ketat di dalam filsafat. Beberapa orang mungkin khawatir soal seberapa jauh buku ini mengabaikan sejarah filsafat. Masalah tentang relasi filsafat dengan sejarah filsafat adalah masalah yang kontroversial. Meskipun di dalam buku ini saya tidak mengacu pada sejarah filsafat, itu bukan karena buku ini berkomitmen pada klaim bahwa sejarah filsafat tidak memiliki hubungan yang penting dengan bagaimana filsafat seharusnya ditelaah.4 Ruang lingkup buku ini memang sengaja dibatasi dengan beberapa cara. Jika sejarah filsafat memiliki hubungan yang penting dengan soal bagaimana seharusnya filsafat ditelaah, sepertinya pelajaran historis yang relevan dapat melengkapi klaim-klaim filosofis non-historis yang dibuat dalam buku ini.

 

Dikutip dari Buku Pengantar Metode-metode Filsafat.

Berikut agar pembaca dapat mengulas lebih kami sertakan versi luring/offline pada link di bawah ini.

Dunia Sophie, Novel Filsafat pdf

Buku Putih Mazhab Syiah pdf 

Belajar Menjadi Sufi pdf 

Sejarah Islam di Nusantara pdf 

Perang Salib Sudut Pandang Islam pdf

Pengantar Metode-metode Filsafat pdf

Materi Bahtsul Masail Muktamar NU ke-34 di Lampung Tahun 2021

 

Sumber gambar: regional.kompas.com

Saat ini dunia dihadapkan pada ancaman akibat perubahan iklim. Berbagai studi menunjukkan bahwa dampak dari perubahan iklim sangat dahsyat, sama atau bahkan lebih mengerikan dari wabah Covid-19. Setiap negara, termasuk Indonesia, harus menyiapkan dan berkontribusi mencari upaya bagi pengelolaan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan iklim karena isu perubahan iklim merupakan persoalan global yang tidak mengenal adanya batasan wilayah dampak dari perubahan iklim.

 

Salah satu studi yang sering dijadikan referensi saat ini bagi pertemuan-pertemuan climate change di dunia baik itu di tingkat kepala negara, di tingkat menteri, di tingkat policy maker lainnya, regulator bahkan private sector, universitas, akademisi, dan NGO merujuk kepada laporan United Nations Environment Programme (UNEP) mengenai kesenjangan emisi.

 

Kenaikan mobilitas dan industrialisasi menyebabkan saat ini suhu dunia mencapai 1,1 derajat Celcius lebih hangat dibandingkan kondisi pra industrialisasi. Indonesia sebagai negara kepulauan juga menerima konsekuensi yang sangat luar biasa karena kenaikan suhu atau temperatur bumi identik dengan kenaikan permukaan laut karena es yang ada di Kutub Utara dan Kutub Selatan akan mencair dan itu cukup untuk meningkatkan permukaan laut seluruh dunia. Artinya untuk Indonesia sebagai negara kepulauan dampaknya akan sangat terasa.

 

Dalam Paris Agreement, negara-negara berkomitmen dengan Nationally Determined Contribution (NDC), namun tetap tidak akan bisa menghindarkan dari kenaikan suhu. Indonesia sendiri berkomitmen untuk menurunkan karbon CO2 emission-nya 29% jika menggunakan upaya dan resources sendiri, atau penurunannya bisa lebih ambisius ke 41% apabila mendapatkan dukungan dari dunia internasional.

 

Indonesia sekarang dipandang sebagai suatu negara yang memiliki size sangat besar sehingga selalu diminta untuk berperan aktif di dunia internasional. Dalam diplomasi dan politik luar negeri, Indonesia diharapkan bisa meminta komitmen negara-negara terutama negara maju di dalam memenuhi konsekuensi sumber daya yang dibutuhkan untuk transformasi ekonomi, dari high carbon menjadi low carbon atau bahkan zero carbon emission.

 

Dikutip dari pengantar Materi Bahtsul Masail Diniyah Qanuniyyah Muktamar NU ke-34 di Lampung 2021.

Berikut agar pembaca dapat mengulas lebih kami sertakan versi luring/offline pada link di bawah ini.

Materi Bahtsul Masail DiniyahQanuniyyah Muktamar NU ke-34 di Lampung 2021 pdf

Materi Bahtsul Masail Diniyah al-Waqi’iyyahMuktamar NU ke-34 di Lampung 2021 pdf

Media Analysis for Muktamar NU ke-34Munawir Aziz pdf

Draft BM Maudhu’iyyah pdf

Memperjuangkan Keadilan Perempuan: Antara Teks Agama dan Realitas

Sumber: republika.co.id

 

Di antara kaum yang tertindas di dunia ini, kaum perempuan berada di urutan teratas. Penderitaannnya semakin bertambah bila kebetulan ia anggota kelas minoritas atau kelas miskin. la selalu dijadikan kambing hitam dari semua persoalan di dunia ini. la tertindas di tengah-tengah komunitas yang religius sebagaimana ia pun tertindas di tengah-tengah komunitas yang "progresif". Ia ditindas atas nama Tuhan, dieksploitasi, atau "di-seksploitasi", atas nama kesempatan dan popularitas. Perempuan adalah makhluk asing di dunia laki-laki. la mengambil apa saja yang disodorkan kepadanya dan, dalam banyak kasus, ia tidak berani membuka mulut untuk memprotes, pun di zaman yang konon disebut sebagai "women's lib" ini.

 

Tak seorang pun dari kita bisa ada di dunia ini, jika tidak karena seorang perempuan yang mengandung kita di dalam rahimnya, merawat kita saat kita belum berdaya, dan mengajari kita ketika kita tidak tahu apa-apa. Singkatnya, perempuanlah yang menjadikan kita seperti sekarang. Tentu, tidak berarti bahwa semua perempuan telah hidup di dalam standar keibuan yang cukup, khususnya dalam kasus-kasus dimana si ayah bebas bepergian tanpa menanggung beban.

 

Pada zaman perbudakan di Amerika, dan pada masa apharteid di Afrika Selatan, kelompok-kelompok keagamaan dan otoritas-otoritasnya telah menyalahgunakan atau memelintir ajaran-ajaran kitab suci untuk membenarkan penindasan terhadap kaum hitam. Setara dengan hal tersebut, kaum perempuan juga tertindas dan diperdaya oleh berbagai jenis orang, yang penindasan ini sekali lagi juga dijustifikasi oleh otoritas-otoritas dan lembaga keagamaan denngan menyalahgunakan dan menyalahtafsirkan kitab suci.

 

Perlakuan terhadap perempuan belum pernah sebaik ketika Muhammad saw, Nabi Islam, memulai dakwahnya. Islam mengemansipasikan kaum perempuan dan memulihkan kembali harga diri mereka. Nabi Muhammad, lewat risalahnya, telah mendorong para pengikut Islam untuk menghormati kaum perempuan, memperlakukan mereka sebagai manusia, memenuhi hak-haknya, serta mendorong partisipasi mereka dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

 

Islam mewajibkan orang yang beriman untuk berjuang membebaskan kaum yang tertindas. Sayangnya, bersama dengan berjalannya waktu, para penganut Islam melupakan pesan ini. Mereka telah tnenyerah dalam memperjuangkan emarisipasi kaum perempuan. Malahan, mereka sendiri kemudian memperlakukan kaum petempuan dengan sikap yang tidak patut mereka perbuat. Belakangan ini, kenyataannya, semakin "religius" seseorang, semakin besar sifat menindasnya terhadap perempilan. Kemunafikan telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mereka yang mempercayai dominasi kaum pria malah menulis buku-buku tentang "Status Kaum Perempuan dalam Islam", yang umumnya untuk konsumsi non-Muslim: Pada saat mereka membanggakan diri mengenai bagaimana Islam mengemansipasikan kaum perempuan, pada saat itu pula mereka bekerja untuk organisasi-organisasi yang menindas kaum perempuan.

 

Kebanyakan perempuan Muslim, entah karena ketidaktahuan atau karena keputusasaan, menerima perlakuan yang salah terhadap mereka sebagai takdir. Segelintir mereka yang mencoba menyuarakan perlawanan terhadap penindasan dibuat frustrasi oleh kenyataan itu. Akibatnya, mereka berbalik melawan Islam dan menempuh cara-cara Barat atau menerima ideologi Sosialis. Kaum pria Muslim masih belum bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut dan masih terus memperlakukan kaum perempuan sebagai objek dan budak mereka.

 

Perlahan-lahan, kaum misionaris Kristen dan kelompok-kelompok Sosialis-Komunis di dunia Islam mengeksploitasi keputusasaan kaum Muslimah tersebut dan mengorganisir mereka untuk melawan Islam.

 

Kaum Muslimah gagal menyadari bahwa Islam membebaskan mereka, dan bahwa mereka tidak dapat memperbaiki duniamereka a tau berharap keselamatan di akhirat kecuali dengan memahami Islam dan hak-hak yang telah diberikan Islam kepada mereka, dan dengan menantang Islam versi kaum pria.

 

Bagaimana mungkin kaum perempuan dapat melihat Islam sebagai kekuatan pembebas ketika Islam sendiri ditunggangi oleh cara berpikir tribalis dan kauvanis kaum pria? Kaum pria ini telah menurunkan peran dan kedudukan kaum perempuan di masyarakat. Dalam karya-karya tafsir, kaum pria telah mengabaikan ajaran-ajaran Islam mengenai perempuan dan rrtemberikan penjelasan simplistik (yang menggambarkan kaum perempuan. sebagai kaum yang "lemah-pikir").

 

Rezim-rezim diktator, seperti Saudi, dan para ulama yang didanai mereka, sangat agresif mempertahankan penindaianterhadap kaum perempuan sampai ke tingkat yang maksimal dengan berlaku tidak jujur terhadap ajaran al-Qur'an. Orang-orang Saudi tampaknya khawatir bila kaum perempuan yang tererrtansipasikan akan dapat melahirkan generasi revolusioner yang akan menantang status quo, menantang eksploitasi atas Islam, menantang kediktatoran yang ada, serta menantang penindasan yang terus berlangsung di sana. Maka, merekalah yang membuat kaum perempuan Muslim menantang Islam.

 

Kaukab Siddique adalah salah seorang dari sedikit sekali penulis Muslim dan intelektual yang sudah banyak menulis dan berbicara tentang pembebasan kaum perempuan dan tentang hak-hak yang telah diberikan Allah kepada mereka. Ia melawan pengkhianatan para "ulama'' tradisional dan kauvanis (terhadap Islam). Ia berpandangan bahwa organisasi-organisasi dan media-media Islam yang sekarang ada tidak berhasrat atau tidak siap umuk memimpin perjuangan ini. Oleh sebab itu, diskusi-diskusi ekstensif pertama kali mendorong terbitnya majalah New Trend sebagai forum bagi kaum yang tertindas, sebagai media pemberi informasi dan pengubah sikap-sikap mereka. Penerbitan tersebut disusul dengan terbentuknya ]ama’at al-Musllimin, yang didirikan untuk mengkampanyekan dan mempraktikan kesetaraan kaum pria dan wanita dalam Islam, serta memberikan kesempatan kepada kaum Muslimah untuk berpartisipasi dalam gerakan Islam secara aktif dan setara dengan kaum pria. BaikNew Trend maupun jama'at al-Muslimfn sama-sama menghadapi perlawanan dan berbagai kesulitan. Kaum tradisional dan kauvinis mencoba menyusup ke dalam majalah dan organisasi tersebut untuk mengubah arah mereka ataupun melemahkan usaha-usaha mereka.

 

Dikutip dari Ali Siddiqui, dalam Pengantar Buku Menggugat Tuhan Yang Maskulin.

Berikut agar pembaca dapat mengulas lebih kami sertakan versi luring/offline pada link di bawah ini.

Menggugat Tuhan Yang Maskulin pdf

Memecah Kebisuan; Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan pdf

Seksualitas Perempuan dalam Tarikan Agamadan Tradisi Muslim pdf

Kajian Tentang Hukum dan Penghukumandalam Islam; Konsep Ideal Hudud dan praktiknya pdf

Dokumen Resmi Proses dan HasilKongres Ulama Perempuan Indonesia pdf

Bahasa Arab sebagai Akar Bias Gender dalam Wacana Islam pdf

Senata.ID -Strong Legacy, Bright Future

Senata.ID - Hidup Bermanfaat itu Indah - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat & sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer