Pages

Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (Q.S. Fathir:29)

Rabu, 24 Maret 2021

Psikologi Islam: Kajian Teoretik dan Penelitian Empirik

 

Sumber gambar: openulis.com

Problematika manusia yang semakin kompleks menunjukkan bahwa psikologi yang berkembang saat ini belum cukup untuk mengatasi inti persoalan manusia. Perlu adanya upaya untuk memahami manusia secara lebih mengakar yang menjelaskan eksistensi manusia itu sendiri. Psikologi Islam menawarkan konsep manusia yang lebih eksistensial yang dianggap mampu mengatasi problematika manusia yang sebetulnya berakar pada masalah spiritual.

Harapan banyak orang bahwa psikologi Islam dapat menyelesaikan banyak persoalan manusia masih belum diimbangi dengan upaya pengembangan psikologi Islam itu sendiri secara lebih serius, sistematis, apalagi institusional. Padahal psikologi Islam seharusnya lebih dapat berkontribusi banyak di masyarakat secara lebih kongkrit dan signifikan.

Secara historis, psikologi Islam memiliki peranan penting pada peradaban manusia baik pada dimensi pengetahuan maupun kehidupan masyarakat. Saat itu psikologi Islam yang termanifestasi dalam karya-karya ulama klasik menjadi pegangan hidup manusia dalam upaya menjalani hidup dengan cara yang paling baik dan benar. Sama dengan berkembangnya psikologi Islam saat ini, psikologi Islam pada masa itu juga mengalami Islamisasi psikologi dari peradaban sebelumnya. Keseriusan berbagai pihak pada saat itu membawa psikologi Islam menjadi ilmu yang penting dan implikatif di tengah masyarakat.

Psikologi Islam saat ini mengalami “Islamisasi kedua” yang membangun sebuah konsep integratif antara Islam (secara prinsip) dengan psikologi barat (secara teoritik). Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki nilai keterbukaan berpikir dan adaptif. Permasalahannya saat ini, psikologi Islam belum menjadi ilmu yang implikatif.

Perubahan paradigma dari identitas menuju universalitas perlu ditegakkan untuk membawa psikologi Islam yang lebih implikatif. Pola pengembangan-pengembangan psikologi Islam yang menekankan identitas (ilmuwan muslim) telah beralih ke pola pengembangan indigenusitas (teori Islami untuk masyarakat muslim), dan diharapakan menuju pada pola pengembangan yang menekankan pada universalitas (rahmah li al-‘ālamīn). Sehingga, Islam menjadi kata yang substantif untuk memahami manusia di manapun manusia itu berada. Upaya yang kongkrit adalah melaksanakan riset yang menghasilkan teori dan panduan praktis. Buku ini diharapkan menunjukkan gambaran terakhir perkembangan psikologi Islam dari teori sampai praktis pada berbagai bidang psikologi

Dikutip dari Dr. Ahmad Rusdi, MA.Si, dan Prof. Subandi, M.A., Ph.D, dalam Psikologi Islam; Kajian Teoretik dan Penelitian Empirik.

Agar Pembaca dapat mengulas tema di atas lebih dalam, kami lampirkan versi luring (offline) pdf pada link di bawah ini.

Psikologi Islam; Kajian Teoretik dan Penelitian Empirik pdf

Khittah dan Khidmah Nahdlatul Ulama

 

Sumber gambar: crcs.ugm.ac.id

MBN (Majma’ Buhuts an-Nahdliyyah) telah banyak sekali melakukan kegiatan silaturrahim dan kajian-kajian sosial yang bersifat aktual dengan berbagai macam bentuk forum di berbagai kabupaten dan Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Memuaskan karena telah dapat menginspirasi Ittihadul Afham tentang dakwah dan ke-Indonesiaan. Alhamdulillah MBN juga telah banyak melakukan silaturrohmi lintas batas baik lintas budaya, politik, ekonomi dan lain-lain. Hasil-hasil pertemuan ini, telah dan Insya Allah akan disebarluaskan oleh MBN baik kepada warga NU maupun Pemerintah.

Selanjutnya kita dapat simak bersama bahwa awal misi Rasulullah dalam perkembangan dan pengembangan kehidupan manusia didapatkan melalui wahyu pertama yang unik yaitu اقراء dimana kalau kita perhatikan disitu ada perintah membaca tapi tidak ada objek yang harus dibaca (inilah keunikannya). Namun demikian secara umum bahwa aspek keilmuan dan amal kemanusiaan tidak melulu bersandar pada keunikan itu sendiri, terbukti Al-Qur’an memberikan motivasi untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan, ini dapat kita lihat lewat perintah maupun pernyataan  yang memancing kita untuk selalu mengadakan dialog misalnya dengan ungkapan apakah kamu tidak berpikir? Apakah kamu tidak melihat? Wahai orang-orang yang berakal dan sebagainya.

Ad-Diin sendiri dalam terjemahannya adalah

وضع الهي سائق لذوي العقول السليمة الى ما هو خير لهم فى دنياهم واخرتهم

“Ketentuan Ilahi yang mendorong siapa saja yang berakal sehat ke arah yang lebih baik dalam kehidupan dunia dan akhirat”.

Pengertian ini merupakan  kontribusi keilmuan dan dorongan yang menumbuhkan pemahaman bahwa apa saja yang kita ker jakan yang mempunyai tujuan menuju kehidupan yang lebih baik dunia akhirat maka secara langsung maupun tidak langsung menjadi bagian integral dari pengamalan ajaran Islam itu sendiri secara otomatis. Maka apa yang MBN lakukan sekarang ini bersama-sama dengan para aktifis NU dari berbagai kalangan termasuk juga pengamalan ajaran  Islam, Insya Allah.

Nahdlatul Ulama sendiri sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan berkembang dan tumbuh dari  konsep dan misi li utammima makaarimal akhlak dan tafaqquh fid diin. Kedua konsep inilah yang menjadi ruh pendidikan pesantren selama berabad-abad. Nahdlatul Ulama lalu menjahit jama ah pesantren ini menjadi sebuah Jam’iyyah. Adalah kurang tepat apabila kedua konsep ini lalu diterjemahkan sebagai hanya memplejari hal-hal yang dianggap sebagai perwujudan murni agama sebab jika kita tarik ke pengertian الدين maka kita sebenarnya tidak mengenal istilah Agama dan Umum yang dikotomis. Ini merupakan politik Belanda yang menargetkan isolasi pesantren agar jauh dari pengertian kehidupan nyata.

Jika Nahdlatul Ulama dan pesantren berbicara dalam kehidupan nyata sekarang ini, maka mau tidak mau Nahdlatul Ulama dan pesantren harus mempunyai kemampuan mengkombinasikan sistem pengelolaan kemasyarakatannya. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan untuk dan kepada masyarakat memiliki kemampuan memadupadankan antara yang salaf dan kholaf. Perpaduan konsep dan sistem ini sangat menguntungkan tetapi kita harus mampu melakukan dan memenuhinya dengan penuh, jangan setengah-setengah. Kita tidak boleh latah hanya sekedar ikut-ikutan saja dengan mengorbankan asas, tetapi kita harus persiapkan serius perangkat pendidikan masyarakat itu, antara lain sistem pendidikan, kurikulum, sarana prasarana, pendidik dan tenaga  kependidikan, dan tentu saja biaya.

Ada perbedaan antara pesantren dan Nahdlatul Ulama dengan lembaga lainnya, yaitu bahwa NU dan pesantren sangat menekankan aspek afektif dalam mendidik masyarakat, dengan demikian hal ini mampu mengembangkan pendidikan dan gerak organisasi sebagai perangkat psiko-motorik. Jangan  heran jika para santri dan anggota-anggota Nahdlatul Ulama di masa lalu mampu menempatkan Islam ala ahlis sunnah wal jamaah sebagai pemandu aktivitas.

Mari kita kembali pada sejarah, Nahdlatul Ulama dan pesan tren selama sekian puluh tahun lalu, benar-benar dapat menjawab tantangan zaman, dengan munculnya para Kyai dan tokoh-tokoh yang luar biasa. Kenapa? Konon ini karena muassis dan tokoh-tokohnya terdidik dan terlatih menjadi santri dan kader yang KHOLISON MUHLISON LIWAJ HILLAH. Sekarang ini apakah pesantren dan Nahdlatul Ulama masih juga bertujuan menjadikan masyarakat Tafaqquh Fiddin? Masihkah para aktifisnya di berbagai tingkatan dan kalangan menjaga dan menjadi contoh akhlakul karimah?

Memang para sesepuh kita dalam mengajarkan materi keilmuan kepada santri dan masyarakat tidaklah menggunakan apa yang disebut kurikulum atau membuat sarana prasana yang cukup memadahi, akan tetapi kekuatan Kiyai dalam memegang prinsip, mempertahankan tujuan atau asas berdirinya pesantren dan Nahdlatul Ulama sangat kuat sekali, sehingga meski ada peraturan atau pandangan sinis terhadap sistem pendidikan pesantren maupun Nahdlatul Ulama, Kyai dan masyarakat pendukungnya tidak goyah sama sekali.

Hal ini yang membuat Nahdlatul Ulama dan pesantren selama bertahun-tahun menjadi jangkar yang menjaga agar kapal besar bernama Bangsa Indonesia tetap kokoh ketika diamuk badai. Menjadi haluan yang menjaga arah dan tujuan kapal besar ini saat semua komponen dan badan kapal berderakderak maju dibawa angin jaman.  Ini adalah kekayaan NU yang luar biasa yang harus kita pertahankan. 

MBN mengajak dan mengingatkan kepada masyarakat utamanya dari pesantren maupun aktifis-aktifis Nahdlatul Ulama untuk berpikir bersama dalam menata umat agar jauh dari kesesatan. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga dan menata akhlak bangsa dalam rangka menjaga dan memperbaiki Indonesia.

Bersama-sama kita bisa melihat kembali, mengenali lebih dekat lalu menjadikannya pelajaran ialah: bagaimana cara para Walisongo dan pendahulu-pendahulu kita melakukan dakwahnya  yang  sangat santun dan tidak menyakiti fihak  lain. Dakwah yang mungkin secara pelan-pelan tetapi nyata dan berhasil. Kita bisa meniru jejak mereka dan membantu merubah Indonesia menjadi lebih baik. Syukur-syukur kita, NU, bisa menjadi garda depan perubahan ini.

Dikutip dari A. Muadz Thohir, Majma’ Buhuts an-Nahdliyyah dalam Khittah dan Khidmah NU.

Agar Pembaca dapat mengulas tema di atas lebih dalam, kami lampirkan versi luring (offline) pdf pada link di bawah ini.

Khittah dan Khidmah NU pdf

Sejarah Pendidikan Islam: Genealogi dan Signifikansinya di Era Kekinian

 

Sumber gambar: islami.co

Almarhum Prof. Kuntowijoyo secara sangat padat mendefinisikan sejarah sebagai “rekonstruksi masa lalu.” Hanya saja tentu saja sejarah tidak menjadikan seluruh masa lalu sebagai objeknya. Pada pokoknya sejarah berporos pada masa lalu manusia. Karenanya, bagaimana alam tercipta, pergeseran lempeng bumi, bagaimana proses benua dan pulau-pulau terbentuk, atau berbagai hal tentang fosil binatang purba, bukanlah bagian dari penelitian sejarah. Yang menggarapnya adalah astronomi, geologi, arkeologi, atau antropologi fisik. Sejarah membicarakan manusia dari sudut pandang waktu. Dalam waktu dapat terjadi banyak hal, antara lain: perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan. Perubahan dapat terjadi dengan cara sangat cepat, cepat, lambat, atau dengan cara sangat lambat. Itulah sebabnya periodisasi menjadi sangat penting dalam sejarah; yakni agar dalam masing-masing periode dapat dilihat secara jelas ciri-ciri dan karakteristik perubahannya.

Sejarah memilih hal-hal yang bermakna secara sosial untuk menjadi objek pembahasannya. Tidak semua hal dipandang relevan terhadap perkembangan dan perubahan masyarakat manusia. Namun demikian sesuatu yang dalam tataran umum terasa ‘biasa’ dapat saja memiliki makna sosial yang sangat penting dalam masa dan tempat tertentu. Dengan kata lain, apa yang bermakna secara sosial dapat dirumuskan secara bervariasi dari orang ke orang, dari waktu ke waktu. Yang prinsip adalah bahwa sejarah memperhatikan yang bermakna, bukan yang sia-sia. Dalam pada itu, sifat dasarnya membuat sejarah senantiasa melihat objeknya sebagai sesuatu yang unik, dan karenanya maka penjelasan yang diberikan pun dengan sendirinya bersifat unik dan sedapat mugkin mendetail. Sejarah tidak mengupayakan generalisasi, sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi dan antropologi.

Signifikansi Sejarah Pendidikan Islam

Kegunaan Sejarah Pendidikan Islam dapat diuraikan mulai dari tingkat yang palig filosofis dan teoretis hingga  yang paling praktis. Di antara kegunaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sebagai ilmu pengetahuan. Sejarah Pendidikan Islam yang sedemikian panjang dipelajari untuk mengetahui perkembangan pendidikan Islam dari masa ke masa dan dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dasar-dasar ajaran Islam dengan sangat tegas menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang positif dan sangat penting.6 Ilmu pengetahuanlah yang menentukan keberhasilan sebuah masyarakat dalam pengembangan peradabannya. Dengan mengetahui Sejarah Pendidikan Islam maka seseorang paham sejauh mana praktik pendidikan Islam saat sekarang ini mengacu pada akar-akar kesejarahannya atau malah sebaliknya.

2. Sebagai contoh untuk ditiru. Sebagai sebuah sejarah pendidikan yang membentang lima belas abad lamanya, pastilah dalam Sejarah Pendidikan Islam ada banyak hal yang istimewa. Dalam pengalaman generasi atau masa keemasan Islam terpendam berbagai praktik terbaik (best practices) yang perlu digali dan dipahami secara baik oleh geneasi sekarang. Lalu dari berbagai praktik yang baik tersebut dilihat bagianbagian yang masih relevan dan bermanfaat untuk ditiru dan dipraktikkan kembali dalam aktivitas pendidikan Islam masa sekarang ini.

3. Sebagai contoh untuk dikritik dan dihindari. Bagaimana pun juga, adalah naif untuk mengasumsikan bahwa Sejarah Pendidikan Islam sepenuhnya berisi praktik yang benar dan baik. Sebagai kumpulan pengalaman manusia, tidak dapat tidak di dalamnya juga telah terjadi praktik-praktik yang kurang baik. Itu pula sebabnya pendidikan Islam mengalami masa kejayaan, tetapi kemudian mengalami kemandekan serius. Praktikpraktik yang kurang baik dan keliru perlu juga untuk dibaca, dianalisis, dan dipahami sebaik mungkin, agar tidak diulangi dalam pendidikan Islam masa sekarang dan masa depan.

4. Sebagai penguat identitas keislaman. Kegunaan lain dari mempelajari Sejarah Pendidikan Islam adalah untuk memperkuat identitas keislaman. Pengalaman masa lalu sebuah masyarakat adalah merupakan landasan bagi pembentukan identitasnya. Generasi muslim saat ini sangat penting mengetahui capaian-capaian masa lalu yang pernah diukir oleh generasi pendahulu. Sebab capaian-capaian tersebut dapat memberi rasa bangga bagi mereka dan membangun kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan masa kini dan juga dalam membangun kemajuan di masa depan. Tentu saja perlu diingatkan bahwa mereka yang mempelajari masa lalu tidak boleh sampai terjebak oleh sikap bernostalgia. Seperti dijelaskan pada poin terdahulu, sejarah mestilah dilihat secara kritis dan objektif.

5. Sebagai ‘ibrah. Dalam Alquran dinyatakan bahwa tujuan akhir dari mempelajari kejadian-kejadian masa lalu adalah untuk memperoleh ‘ibrah. ‘Ibrah adalah pelajaran hidup dari mengetahui dan merenungkan kejadian-kejadian masa lalu yang berguna dalam merumuskan sikap dan tindakan pada masa kini. Sejarah tidak bertujan akhir untuk mengawetkan masa lalu, sebagaimana diupayakan oleh arkeologi. Misalnya, ‘ibrah yang sangat penting dapat diperoleh dengan merenungkan aktivitas ilmiah yang dilakoni oleh para tokoh dunia pendidikan masa lalu. Pembaca yang kritis segera akan melihat bahwa semua kegiatan mereka dibangun di atas sebuah fondasi sikap keuletan tanpa kenal lelah, daya kritik yang kuat, dan keberanian yang luar biasa. Inilah yang kemudian memungkinkan mereka menjadi ilmuan-ilmuan besar di bidangnya. ‘Ibrah yang dapat diperoleh adalah bahwa waktu boleh berjalan terus; akan tetapi semangat yang sama masih merupakan syarat mutlak keberhasilan di dunia ilmiah hingga kini dan hingga di masa mendatang

Dikutip dari Prof. Hasan Asari, M.A., dalam Sejarah Pendidikan Islam.

Agar Pembaca dapat mengulas tema di atas lebih dalam, kami lampirkan versi luring (offline) pdf pada link di bawah ini.

Sejarah Pendidikan Islam pdf

Senata.ID -Strong Legacy, Bright Future

Senata.ID - Hidup Bermanfaat itu Indah - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat & sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer