Pages

Selasa, 29 November 2016

Wanita Bekerja, Motivasi Uang Nomer Dua

Sumber gambar: ruangmuslimah.co

Perusahaan atau kantor adalah sebuah lingkungan yang memiliki karakteristik terbuka dan heterogen. Di dalamnya berisi orang-orang dengan kelas ekonomi, pengetahun, dan perilaku yang berbeda-beda. Seorang wanita muslimah yang mengambil pilihan berkarir, perlu pandai menempatkan diri di lingkungan ini. Berbeda dengan lingkungan keluarga dimana wanita memiliki ruang kebebasan yang sama dengan laki-laki, tapi di ruang public seperti ini, tentu kebebasan itu lebih terbatasi.

Kaum wanita layak lebih “cerewet” dalam menentukan criteria pekerjaan. Cerewet maksudnya adalah betul-betul selektif dalam memilih pekerjaan. Islam telah memberikan kebebasan kepada wanita untuk bekerja. Di zaman Nabi, ada banyak wanita sahabiah yang ikut membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Salah satunya, kita mengenal Asma binti Abu Bakar yang berprofesi sebagai tukang pencari kayu untuk dijual di pasar.

Sementara kebebasan berkarir sudah diberikan, maka tinggal wanita muslimah menentukan pilihan pekerjaan yang paling menghormati fitrah wanitanya. Memilih pekerjaan yang sesuai, dimulai dari memperhatikan bagaimana perusahaan melihat wanita itu sendiri. Maksudnya, seperti kita ketahui bahwa perusahaan hari ini tidak semuanya membutuhkan karyawan wanita karena obyektif terhadap kapasitas ilmunya. Wanita dibutuhkan bukan ilmu dan pengetahuannya. Tapi lebih pada penampilannya. Kalau penampilan hanya menjadi salah satu criteria mungkin tidak terlalu masalah. Yang masalah adalah kalau penampilan itu justru dipakai sebagai komoditas untuk dijual.

Tentu perusahaan yang merekrut dengan motif tersebut bukanlah pilihan terbaik bagi seorang  muslimah. Apabila tuntutan-tuntutan itu hanya berupa penampilan, kecantikan wajah, kemolekan bersama yang memancing perhatian, maka tawaran itu harus dibuang jauh-jauh. Berkarir dengan karakter pekerjaan seperti itu sejatinya hanya akan merendahkan wanita itu sendiri. Coba jawab, apabila orang tahu bahwa dirinya berada di pekerjaan tersebut tak lebih karena penampilannya sedang menjadi komoditas daya tarik, adakah kebanggan yang bisa dibawa ke rumahnya? Kehadapan suaminya atau anak-anaknya ?

Seorang wanita mungkin justru senang dengan karakter pekerjaan demikian. Ya, itu terserah mereka. Orientasinya memang sudah berbeda. Namun bagi wanita muslimah yang ingin menetapi jalan yang diridhai Allah, akan tetapi kondisi mensyaratkan ia harus bekerja, maka keduanya bisa dikompromikan dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, dengan keyakinan kepada Allah dan komitmen untuk menjadi pribadi bertakwa, semuanya akan dimudahkan, seperti yang telah disampaikan Allah: “Dan barang siapa yang bertawa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Q.S. At-Thalaq: 4)

Satu hal yang meringankan adalah wanita tidak diwajibkan mencari nafkah. Sejatinya nafkah itu adalah tanggungjawab laki-laki sebagai suami atau ayah. Kalaupun wanita bekerja, itu hanyalah bersifat membantu suami. Karenanya bagi wanita muslimah, uang bukanlah motivasi yang utama, msekipun itu tetap penting. Namanya membantu, tentu tidak sama dengan yang memang menjadi kewajiban.

Wanita harusnya tidak membabi buta dalam menentukan criteria pekerjaan. Suami atau orang tua, juga harus ikut berperan dalam membantu wanita muslimah memilih pekerjaan. Dia adalah mutiara yang harus terjaga di manapun ia berada. Ia harus diberikan tempat dimana lingkungannya sangat menghargai kodrat wanitanya. Pergaulannya harus baik. Pergaulan yang membuat suami merasa aman menitipkan istrinya berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahunan di lingkungan kantor tersebut.

Jangan hanya mengejar tingginya gaji lalu wanita muslimah tidak memperhatikan kenyamanan lingkungannya. Mungkin saja bagi kaum laki-laki, mereka masih layak bertahan meskipun lingkungan pergaulannya kurang baik. Asalkan pekerjaannya halal, tidak ada celaan baginya ketika harus mempertahankan pekerjaan meski lingkungan jauh dari kesholehan. Tapi wanita berbeda. Ia harus dijaga dan dilindungi, tidak boleh diperdengarkan padanya perkataan tabu, tidak boleh dipergaulkan kepadanya laki-laki yang tidak tahu batasan, tidak boleh dipersentuhkan kepadanya kulit-kulit yang tidak halal, tidak boleh dituntutkan kepadanya mengumbar-ngumbar daya tarik.

Wahai suami, apakah yang menjadi kebanggan anda apabila disuruh bekerja di lingkungan yang tidak mengahargai kewanitaannya ? apakah anda tidak malu makan dari harta istri yang dipaksa melawan fitrahnya? Tidakkah sebaiknya kita mendengar dan patuh terhadap ancaman keras dari Allah swt, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At-Tahrim: 6)

Allah tidak membebani hambanya melebihi kemampuannya. Yakinlah bahwa rizki sesungguhnya sudah djamin oleh Allah swt. Istri tak bekerja pun, sebenarnya kalau kita yakin kepada Allah swt, rumah tangga kita tidak akan kekurangan. Karena peran utama istri sebenarnya memang di rumah. Kalaupun dia harus keluar rumah, sekali lagi boleh-boleh saja bahkan berpahala bila niatnya untuk membantu keluarga. Lalu ketika mereka sudah beranjak keluar dari pintu rumahnya, siapapun harus merasa bertanggungjawab untuk menjaganya, merawatnya dan memuliakannya. Bagaimana kalau wanita itu sendiri yang tidak peduli? Nah, inilah yang repot. Doakan saja semoga segera dapat hidayah.

0 komentar:

Posting Komentar

Senata.ID -Strong Legacy, Bright Future

Senata.ID - Hidup Bermanfaat itu Indah - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat & sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer