Pages

Selasa, 07 Juli 2020

Masih Perlukah "Pandemi", Sains, Filsafat dan Agama? Perspektif Soto dan Tahu Campur

satupena.id

Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan kepastian. –Karl Popper

 

Dari abad ke abad, wabah adalah ketidakpastian. Juga sekarang. Ilmu pengetahuan selalu menjanjikan jawab yang meyakinkan, tapi bersamaan dengan itu juga hidup dari pertanyaan dan perdebatan. Apa yang kemarin kita ketahui tentang COVID-19, hari ini tak sebulat sebelumnya. Virus, yang, menurut seorang pakar “tak terdapat pada manusia enam bulan yang lalu”, kini membingungkan mereka yang bergulat mengalahkannya. Bahkan sekarang kembali diperdengarkan suara bahwa bahaya COVID-19 sesungguhnya dilebih-lebihkan.

 

Saya termasuk yang berharap begitu, seraya kurang percaya — tapi apa yang sebenarnya bisa saya percaya dengan pasti? Pernah dikatakan sang virus tak akan membunuh anak-anak. Tapi baru-baru ini di kota New York bocah berumur lima tahun mati dengan gejala tertular. Pernah dikatakan, kita harus tinggal di rumah, tapi kemarin ada berita, di rumah pun tak ada jaminan selamat.

 

“Di sepanjang zaman, banyak hal berubah dalam ilmu,” kata seorang dokter ahli di Boston yang dikutip. 

 

Washington Post pekan lalu ketika membahas COVID-19.

“Teori dibikin dan dibuang. Hipotes is ditarik dicabut.” Lalu ia menambahkan: “Artinya kita sedang belajar.”

 

Tak ada yang baru dalam kata-kata itu, sementara ada yang dilupakan, bahwa kita tak hidup “di sepanjang zaman”. Kita —apalagi orang awam— dikepung ketidaktahuan, ditodong ancaman sakit dan kematian, dan semua terjadi hari ini. Kita tak sempat meninjau “sepanjang zaman”. Kita esok harus memutuskan: sampai kapan kota kita ditutup? Sampai berapa lama kehidupan ekonomi dihentikan, dengan korban yang tak jarang tragis, seperti seorang anak perempuan India berumur 12 yang mati ketika harus berjalan kaki kembali ke kampungnya — 150 km dari kota yang dilockdown dan merebut sumber hidupnya?

Para pakar epidemi umumnya menjawab, (dengan segala niat baik, juga dengan masygul): “Situasi ini masih akan lama… ”

 

Jawaban itu memang tak dimaksudkan menghibur. Ia menyiapkan kita agar tak punya ilusi. Tapi lebih jauh mungkin akan dipersoalkan: ketika ilmu pengetahuan belum punya kesimpulan tentang sang virus, waktu yang “lama” itu akan bisa mengubah rasa ketakpastian jadi gugatan: bagaimana para ilmuwan secara moral mempertanggung jawabkan apa yang mereka katakan dan sarankan, jika yang mereka kemukakan belum sebuah kesimpulan? Bahwa mereka sebenarnya “sedang belajar”?

 

Tak mudah menjawab ini —tak mudah bagi para ilmuwan. Sama tak mudahnya bagi pengambil keputusan politik yang menentukan sebuah kebijakan dengan dibantu ilmu pengetahuan yang masih bertanyatanya. 

 

Apalagi dewasa ini mulai ada rasa cemas bahwa perlombaan riset di pelbagai lembaga keilmuan — yang diukur KPI, “key performance indica tors” — pelan-pelan merusak semangat keilmuan. Para ilmuwan didorong-dorong untuk mencapai hasil yang mengesankan. Ilmu ingin cepat menjawab dan mulai malas bertanya. Para periset yang berangkat dari rasa ingin tahu dipinggirkan, sementara pimpinan lembaga yang harus mencari dana dan nama membayangi tiap proyek peneletian. Di masa pandemi yang cepat menyebar ini, ada desakan lain, yang bukan main-main: niat menyelamatkan kehidupan.

 

Di masa lalu —yang berlum benar-benar lalu— ada jalan lain dari situasi bertanya-tanya. Orang bisa menyodorkan sesuatu yang di luar dirinya. Menanggungkan cemas di pundak sendiri memang terlalu berat. Maka di Eropa, selama pandemi besar abad ke-13, beberapa ribu orang Yahudi — ya, mereka orang lain— dibakar hidup-hidup. Atau, orang merujuk nasib dan bintang-bintang. Atau, lebih sering, Tuhan. 

 

Ketika mereka sendiri resah atau takut menyalahkan Tuhan sebagai pencipta malapetaka, para agamawan membangun theodice — sebuah pembelaan buat Tuhan: Tuhan yang baik dan adil tentu selalu punya alasan yang mulia. Ia menguji kita — juga menguji anak India yang mati di jalan itu. Sebuah mala dalam bumi ciptaan Tuhan selalu dimaksudkan baik, meskipun yang menikmati kebaikan umumnya mereka yang bukan sekelas si gadis yang kelaparan itu.

 

Sebenarnya bisa juga manusia menolak menghalalkan mala yang menimpanya — menolak bahwa itu “desain niat baik Tuhan”. Manusia bisa menanggungkan mala tanpa pernah melihat rencana penghiburan Ilahi. 

 

Levinas, misalnya, filsuf Yahudi-Prancis itu, yang mengalami kekejaman Hitler terhadap orang-orang Yahudi, lebih suka berbicara tentang agama yang tanpa janji, tanpa penghiburan: “iman tanpa theodice ”.

 

Dengan kata lain, ia ingin menunjukkan ia bisa beriman kepada Tuhan yang tidak senantiasa adil. Tanpa Tuhan yang demikian sekalipun, toh manusia tetap bisa jadi saksi dan pelaku kebaikan — tetap bisa mengalami keadilan sebagai “ruh” yang tak pernah jera membayangi dan menyeru, dalam sejarah yang fana. 

 

Tapi ini tak ringan dizinjing. Di zaman modern, penjelasanpenjelasan berubah, bahkan sejak masa Shakespere di abad ke-16, ketika wabah datang berkali-kali. Salah satu tokoh dalam lakon “All’s Well That Ends Well” berkata: “Kini dikatakan, mukjizat telah berlalu; kini kita punya orang - orang yang berfilsafat, untuk membuat hal - ha l yang supranatural dan tanpa sebab menjadi sesuatu yang modern dan biasa saja.”

 

Ada yang didapat di masa modern itu, tapi juga ada yang hilang. Kita tak menyerah ke sebuah ketakutan yang tak kita pahami, tapi dengan itu “kita meremehkan rasa ngeri, berlindung dalam sesuatu yang seakan-akan pengetahuan”, ensconcing ourselves into seeming knowledge.

Kata “seakan-akan” di sana terasa ngilu, atau lucu, atau jujur.

 

Risalah Sains dan Problematikanya

Saya bukan saintis dan tidak punya latar belakang pendidikan sains. Saya akan susah payah berbicara, dan lebih susah-payah lagi berkhidmat kepada sains. Bagi saya sains seperti halnya kesenian, dunia yang lebih saya kenal, bukanlah sebuah bidang kerja atau keahlian, yang harus disikapi dengan khidmat tetapi dengan kritis.

 

Tadi disebut peran sains dalam pandemi ini, dan memang menjadi sangat penting di Indonesia dan juga di mana-mana. Keputusan publik yang penting dalam pandemi ini umumnya didasarkan pada pendapat pada ilmuwan. Terutama para epedemiologist dan virologist , meskipun sains bukan segala-galanya.

 

Ada satu percakapan yang melibatkan Einstein di Princeton tahun 1946. Para saintis ditanya, “Anda bisa membuat bom atom. Bisa menelaah struktur atom, tapi tidak bisa men-device secara politik, yang membikin atom tidak merusak kita?” 

 

Einstein menjawab: “Itu sederhana. Sebab politik lebih susah daripada fisika.”

 

Einstein tidak mengglorifikasi sains. Dan memang tidak sepatutnya diglorifikasi. Dalam banyak hal sains itu pemilik problem. Dan itu bukan soal baru. Sains itu prestasinya luar biasa dan karena itu memperoleh otoritasnya. 

 

Dalam pemikiran mutakhir, mulai abad ke-19 mulai ada kritik terhadap sains. Martin Heidegger mengatakan: “Science doesn’t think.”

 

Pada mulanya adalah ketika Galileo Galilei mengubah paradigma sains berdasarkan matematika. Edmund Husserl mengatakan Galileo dalam menemukan paradigma matematika dan pada saat yang sama objek-objek dalam kehidupan menjadi angka-angka dan terlepas dari akar-akar primordialnya dalam kehidupannya. Lalu sains disibukkan menjadi alat untuk mencapai tujuan. Akhir-akhir ini malah terjadi kompetisi, bukan dimulai oleh para periset, tetapi oleh badan-badan atau ketua badan yang mengusahakan funding dan sebagainya, dan itu diarahkan untuk memecahkan soal.

Ilmu atau sains punya dua peran, yaitu menafsirkan dunia dan mengubah dunia. Sekarang menafsirkan dunia sudah disisihkan menjadi mengubah dunia. Dengan prestasi yang hebat, sains kemudian membuat jarak dengan kehidupan. Ilmu bukan tidak berguna, justru berguna, tetapi ada hal-hal lain yang terlepas dari ilmu. Einstein bilang sederhana dan agak lucu, bahwa politik lebih sukar dari ilmu. Ada hal-hal yang lebih rumit/ complicated yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu. 

 

Jika ilmu mengklaim bisa menjadi agul-agul untuk menyelesaikan semuanya, termasuk mengatasi pandemi, saya kira agak sombong. Popper bilang, ilmu menuju kebenaran, bukan kepastian. Ketika tindakan harus dilakukan, kepastian diperlukan. Tetapi kepastian akan selalu luput oleh ilmu. Problemnya adalah ilmu tidak memberikan formula yang selesai dan di situlah kekuatan ilmu. 

 

Bukan keulungan pemikiran ilmu melainkan penyelamatan manusia, dan itulah yang dilakukan oleh dokter-dokter STOVIA, yang dipersonifikasi oleh Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo. Dokter Tjipto adalah pahlawan yang melawan wabah. 

 

Lulusan STOVIA belum dianggap dokter oleh orang-orang Belanda. Dalam melawan wabah, komitmennya adalah menyelamatkan orang yang sengsara, bukan mengunggulkan ilmu. Mencari jawab pada COVID-19 juga repot. Yang paling baik adalah yang dilakukan dokter dan perawat di rumah sakit. Itu sumbangan terbesar, bukan keilmuan tetapi pengabdian.

 

Antara Sains, Soto dan Tahu Campur

 

Saya sering membaca di beberapa buku sains populer yang terus terang amat saya nikmati itu suatu statemen t yang kira-kira bisa diringkaskan dengan kalimat berikut:

Perbedaan mendasar antara sains dan agama adalah bahwa dalam sains, seorang saintis akan den gan gembira menyambut koreksi dan kritik oleh sesama koleganya manakala teori yang ia ajukan terbukti salah; atau, dalam istilah filsuf Karl Popper, "di - falsifikasi". Dia tidak akan mengkafirkan saintis lain yang telah mengoreksinya, apalagi melaporkannya ke majlis inkwisisi untuk diadili.

 

Ini, kata para pendukung sains, berbeda dengan agama. Di sana, seseorang yang berbeda mazhab atau sekte bisa dikafirkan, dimusuhi, diadili, bahkan dibunuh. Dalam agama, perbedaan akidah dan pendapat bisa berujung pada perang.

 

Hujjah ini, tentu saja, dikemukakan sebagai alat untuk "mengejek" agama, seraya mengunggulkan sains sebagai diskursus yang lebih superior, lebih "beradab", karena ia rasional, matang, tidak menimbulkan permusuhan.

 

Para pecinta sains (catatan: sains di sini saya maksudkan sebagai ilmu-ilmu kealaman, bukan "social sciences") di mana-mana, termasuk di Indonesia, sering pula mengulang-ngulang mantra klise ini, mantra yang tak bisa dipungkiri bernada "kepongahan" (ini adalah terjemahan saya untuk istilah "scientific boasting" yang dipakai oleh David Berlinski dalam bukunya "Devil's Delusion").

 

Mari kita teliti, apakah pernyataan ini benar.

 

Kita tak bisa mengingkari adanya pertikaian antara mazhab dan sekte dalam sejarah agama-agama. Eropa mengenal tiga puluh tahun perang agama pada abad ke-17 yang berkecamuk di Jerman akibat Reformasi Protestan. Islam mengenal konflik Sunni-Syiah yang berdarah-darah, baik pada masa klasik atau modern.

 

Sejarah kelam agama seperti ini, terutama dalam lingkungan dua agama semitik (Kristen dan Islam), tidak bisa diingkari. Saya pun membaca sejarah hitam seperti ini dengan perasaan masygul, kadang marah: kenapa ajaran Tuhan yang dimaksudkan untuk menegakkan kehidupan yang damai di bumi, justru menimbulkan perang yang berdarah-darah?

 

Penjelasan yang komprehensif mengenai paradoks seperti ini, bisa dibaca dalam buku yang ditulis Karen Armstrong, "Fields of Blood: Religion and the History of Violence" (2014). Tetapi saya punya penjelasan sendiri.

 

Menjadikan sejarah kelam agama sebagai alat untuk " bragging ", menepuk dada dan mengejek agama seperti dilakukan oleh (sebagian) saintis dan para pendukungnya, bagi saya, bisa tampak menggelikan.

 

Mari kita telaah, kenapa tidak ada perang karena perbedaan pendapat dalam sains. Tanpa meneliti lebih saksama hal ini, kita bisa tertipu oleh "argumen retoris" para pendukung sains itu.

 

Baik sains dan agama, secara ontologis atau wujudiah, masuk dalam wilayah yang sama: keduanya adalah bagian dari aktivitas mental manusia, meskipun dasar-dasar legitimasinya beda; agama bersumber dari wahyu, sains dari observasi atas data-data empiris.

 

Tetapi keduanya jelas berbeda secara mendasar dari segi berikut ini: agama masuk dalam apa yang oleh teolog Lutheran Paul Tillich disebut sebagai "the ultimate concern", hal yang begitu mendalam mempengaruhi "psyche", jiwa, dan emosi manusia karena menyangkut pertanyaan mendasar dalam hidup. Perbedaan dalam hal-hal yang menyangkut "the ultimate concern" memang rawan menimbulkan konflik, karena menyangkut emosi yang terdalam pada diri manusia.

 

Sementara watak sains berbeda: dia bersifat rasional, dan cenderung tidak menyentuh emosi manusia yang terdalam. Karena itu, tak ada seorang pun bersedia mati berjihad untuk membela teori gravitasi, atau mempertahankan persamaan Einstein E = mc². Untuk apa, kok seperti kurang pekerjaan saja?

 

Perbedaan dalam sains tidak melibatkan "high stake" dalam hidup manusia yang memiliki kesadaran, karena tidak menyangkut "the ultimate concern".

 

Seorang saintis memang tidak akan bertengkar hingga berujung pada konflik fisik karena perbedaan hipotesis atau interpretasi terhadap suatu data. Tetapi ini tidaklah sesuatu yang khas sains. Betapa banyak bidang dalam kehidupan manusia di mana perbedaan di sana tidak berujung pada konflik dan saling mengkafirkan, karena tak menyangkut "the ultimate concern".

 

Para sarjana sastra tidak berperang karena perbedaan teori dan pendekatan. Para ahli hukum tidak bertikai secara fisik karena perbedaan mazhab. Para pelatih bola tidak berseteru karena perbedaan strategi.

 

Para chef tidak bertengkar karena berbeda dalam menilai resep makanan. Para juri dalam kompetisi musik tidak saling mengafirkan karena berselisih pandangan dalam menilai penampilan seorang kontestan. Seorang kritikus seni atau lukisan bisa berbeda dalam menilai mana lukisan yang paling "menggetarkan", tetapi mereka tidak saling baku-hantam.

 

Dua orang Ngawi (ini sekadar contoh saja) tak akan saling memurtadkan karena salah satunya beranggapan bahwa Soto Lamongan lebih lezat ketimbang Soto Bangkong. Mereka berbeda, tetapi tidak akan adu-jotos.

 

Contoh-contoh semacam ini tak terhitung jumlahnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sains bukanlah satu-satunya "human enterprise" yang patut merasa pongah dengan sebuah klaim bahwa perbedaan di dalamnya tidak menimbulkan konflik berdarah-darah. Tak ada yang spesial pada sains dalam aspek ini. Biasa saja.

 

Tidak semua perbedaan dalam agama juga berujung pada pengkafiran dan konflik. Perbedaan dalam forum bahtsul masa'il di antara para kiai NU dalam merumuskan sebuah fatwa, tidak berujung pada pengafiran. Ribuan bahtsul masa'il saya saksikan dalam sejarah NU, dan tidak ada satupun cekcok berdarah-darah muncul di sana.

 

Harus diingat pula, perbedaan yang menimbulkan konflik dan perang tidaklah monopoli agama. Perang dingin yang melibatkan perlombaan senjata nuklir yang nyaris memusnahkan spesies manusia, berlangsung sejak dekade tahun 1950-an sampai runtuhnya Tembok Berlin pada 1991. Dalam Perang Dingin ini, dua mazhab sekuler, bukan agama, saling berseteru: kapitalisme dan komunisme.

 

Apakah para pendukung sains akan mengatakan bahwa: sains lebih unggul tinimbang ideologi kapitalisme atau sosialisme, hanya karena para saintis bisa berbeda secara beradab dan tidak berujung pada perang, baik dingin, setengah dingin, atau panas?

Nasionalisme adalah ideologi modern yang memiliki sejarah yang rumit: ada sejarah terang, ada sejarah gelap. Sejarah terang nasionalisme ditandai dengan lahirnya negara-negara nasional yang memberikan "ruang sosial-kultural" bagi miliaran penduduk bumi untuk membangun peradaban mereka masing-masing, termasuk bagi para saintis untuk bekerja.

 

Tetapi nasionalisme juga punya sejarah yang amat kelam. Kita menyaksikan hal ini berkali-kali dalam era modern: Kashmir, Palestina, Rohingya, Uyghur, Bosnia, Timor-Timur, dan lain-lain. Apakah sains akan menepuk dada pula bahwa dirinya lebih unggul dari ideologi nasionalisme karena para saintis bisa berbeda pendapat tanpa menimbulkan "perang"?

 

Perbedaan dalam sains tidak menimbulkan konflik dan perang karena ia tidak melibatkan "the ultimate concern" yang menyentuh emosi manusia yang terdalam. Dia adalah kegiatan serebral yang tidak membangkitkan emosi.

 

Jika sebagian pendukung sains berpikiran bahwa agama harus dihapuskan saja (jika bisa!) karena hanya menimbulkan konflik, maka nasionalisme dan negara-negara nasional modern juga harus dihapuskan. Pemilu langsung juga layak ditiadakan sama sekali, karena potensial menyulut konflik, sekurang-kurangnya seperti terlihat dalam pilpres kita yang terakhir.

 

Apakah demokrasi juga kalah unggul dibanding sains, karena perbedaan di sana potensial memantik kerusuhan seperti terjadi di Amerika hari-hari ini?

 

Konflik dalam kehidupan manusia adalah fakta yang tak terhindarkan; pemantiknya bisa agama atau ideologi sekular. Konflik ini bisa diatasi, dan karena itu muncul disiplin keilmuan yang bernama "conflict resolution".

 

Tetapi menepuk dada seperti dilakukan sebagian pendukung sains bahwa mereka bisa berbeda tanpa baku-hantam, dan karena itu bidang yang mereka geluti lebih superior tinimbang bidang-bidang lain, jelas menggelikan. Karena dua orang Ngawi yang saya ceritakan tadi juga melakukan hal yang sama: mereka berbeda, dan tidak berujung pada konflik.

 

Bedanya hanya satu: dua orang Ngawi itu tidak pongah. Mereka berbeda soal soto dan tahu campur dan tetap bersahabat, tidak saling mengafirkan. Tetapi mereka tidak lalu berpikiran bahwa agama, nasionalisme, demokrasi, dan kapitalisme kalah unggul dibanding soto atau tahu campur.

 

Kegusaran Atas Wabah

 

Jauh sebelum pandemi, negara ini sudah terjangkit wicked problem. Frasa yang menurut C. West Churchman, filsuf dan saintis sistem dari Amerika, diartikan sebagai masalah yang tidak mungkin dipecahkan. Karena komponen persyaratan jalan keluar yang kita ketahui tidak komplit, kontradiktif, juga berubah-ubah. Interdependensi komponen di dalamnya begitu kompleks, sehingga upaya-upaya pemecahan masalahnya pun malah melahirkan masalah baru.

 

Kemudian datang COVID-19. Bila dikawinkan dengan wicked problem yang sudah lebih dulu mendera, wabah tersebut telah menjelmakan keruwetan Indonesia menjadi monster nggregesi (baca: akut).

 

Barangkali kita perlu mencoba metodologi yang baru. Coba perhatikan semua model. Lalu tanyakan definisi kepada masingmasing model: ada masalah apa?

 

Formulasi masalah dari sebuah model tak akan lepas dari aksiomanya. Formulasi prediksi akan terlokalisasi pada area terkuat, tempat aksioma tertata menjadi teorema. Keragaman ini menyediakan probabilitas lebih tinggi untuk mengenal wicked problem pada kerangka yang lebih koheren antar-model. Tidak hanya intramodel.

 

Dengan begitu, mudah-mudahan, diskusi tidak akan lagi berkutat pada urusan kebenaran belaka. Melainkan lebih menuju jalan pemecahan masalah. Urusan benar atau salah, efektif atau tidak, kelak observable world akan bereaksi sendiri. Waktu akan membuktikan. Segaduh apapun perdebatan soal kebenaran, tetap saja tak membangunkan real world dari kebisuannya. Kita hanya perlu memformulasi hipotesis selengkap mungkin dari semua model yang tersedia.

 

Keruwetan bangsa ini bisa dihadapi bersama menggunakan berbagai model. Tak ada yang ditinggal, semua ikut serta. Masing-masing pihak masih bisa melakukan upaya sesuai kapasitas. Ada yang riset, sementara yang lain wiridan, berdoa sembari bakar menyan, serta yang lain-lain. Jika ini terjadi, tidak mustahil, monster wicked problem bisa dikalahkan. Kalaupun masih gagal, paling tidak kita telah mendapat laba berupa keindahan. Itu jadi modal kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.

 

Trilema Sains, Agama dan Filsafat

 

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek). Tiga aspek ini cukup sulit dipersatukan untuk menjadi kesatuan.

 

Paradigma yang koheren, substantif, non-superficial. Kita  bisa mengombinasikan dua paradigma, namun agak mustahil menyatukan ketiganya. Mampu menjadi orang yang taat beragama, mendalami filsafat, sekaligus antusias pro-sains.

 

Trilemanya begini: (1) Jika Anda taat beragama dan mendalami filsafat, pasti tidak pro-sains; (2) Jika Anda pro-sains dan beragama, pasti kurang mendalami filsafat; (3) Jika Anda berfilsafat dan pro-sains, pasti tidak taat beragama.

 

Saya mengategorikan F Budi Hardiman (FBH) pada trilema pertama: beragama dan berfilsafat, namun tidak pro-sains. Ia menulis “Saintisme dan Momok-momok Lain” ikut meramaikan debat menyoal sains dan korelasinya dengan filsafat dan agama. Tulisannya, di beberapa paragraf awal, bernada patronizing dalam mendakwa sains. Ia sengaja memilih judul dengan diksi yang detraktif (“saintisme”; “momok”). Berkhotbah: “kepongahan kemajuan sains bisa menjadi dogmatisme baru.”

 

FBH juga mengajak untuk membuat distingsi antara “sains dengan saintisme,” sebagaimana memilah “agama dengan fideisme,” dan membedakan “filsafat dengan ideologi.” Menurutnya, yang pertama adalah upaya mencari jawaban, yang kedua merasa telah menemukan jawaban. Perdebatan yang berlangsung, katanya, lebih pada saintisme, fideisme, dan ideologi; ketimbang soal sains, agama, atau filsafat.

 

FBH fokus memilih menyerang sains dengan mengupas “saintisme”, namun enggan menyentuh fideisme (agama) dan ideologisasi (filsafat). Menunjukkan bias-berpikirnya yang terjebak pada trilema kategori pertama. Tak soal tentu, bias berpikir adalah manusiawi. Bagaimanapun, saya  tertarik menanggapi ajakannya untuk membuat debat “masuk lebih dalam”. Ia mengajukan tiga premis dan pertanyaan:

 

Pertama, menghadap-hadapkan agama dan sains tidak realistis; karena sains secara historis tidak dapat lepas sepenuhnya dari agama. Kedua, New Sciences (seperti teori chaos, geometri faktal, mekanika kuantum) telah berpisah dari Newtonian mechanical worldview; ketidakpastian dan kontingensi makin mendapat tempat dalam sains. Ketiga, hubungan antara sains dan dunia makna; realitas terdiri atas benda dan makna. Sains berhasil mengetahui benda, tetapi bisakah makna didekati oleh sains? Bagaimana menjelaskan dari benda muncul kehidupan, dan dari kehidupan muncul kesadaran.

 

Menghadapkan Agama dan Sains

“Menghadap-hadapkan agama dan sains tidak realistis; karena secara historis sains tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari agama.” Secara prinsip premis ini valid, dalam hal “tidak bisa dilepaskan secara historis”.  Cukup banyak temuan sains yang dihasilkan oleh sejumlah saintis bukan saja terinspirasi ajaran agama, namun awal niatannya adalah untuk—secara harfiah— pengabdian pada agama.

 

Isaac Newton adalah quintessential saintis yang mendedikasikan hidup dan ilmunya untuk agama. Ia menulis sejumlah “karya ilmiah” yang dapat dikategorikan occult studies (studi hal-hal ghaib), seperti astrologi, alchemy, keajaiban alam, dan interpretasi Kitab Injil, antara lain tentang nubuat second coming Yesus dan hari kiamat.

Ia berupaya menggali ulang wisdom scripture (teks kitab suci) dan memaknai secara harfiah—bukan sebagai metafora atau kiasan.

 

Newton lahir dari keluarga gereja Anglikan, dan percaya sepenuhnya Tuhan monotheis adalah Sang Pencipta yang keberadaannya tak terbantahkan. Saat itu, abad ke-17,  belum ada pemilahan antara sains, pseudo-sains, dan takhyul. Paradigma intelektual (Eropa) umumnya terpaku pada agama. Newton percaya logam tumbuh di tanah seperti pohon, dunia materi itu hidup, dan gaya gravitasi disebabkan oleh emisi kimiawi garam.

 

Newton meyakini, Tuhan secara khusus mengutusnya untuk menyampaikan kebenaran teks kitab suci. Ia percaya kedatangan kembali (second coming) Yesus. Dalam kalkulasinya Yesus akan datang kembali ke dunia pada tahun 2060, diikuti dengan berdirinya Kerajaan Allah di bumi yang akan bertahan hingga akhir zaman.

 

Newton menulis Rules for interpreting the words & language in Scripture, sebagai panduan interpretasi Kitab Injil yang benar. Ia serius mengabdikan diri mengungkap “Bible Code”, pesan-pesan tersembunyi Alkitab. Tujuannya untuk meluruskan hal-hal yang tidak dipahami dengan baik oleh umat. Pendekatan Newton dalam mengungkap makna teks Alkitab (Book of Revelation), saat itu, jelas tidak bisa disebut saintifik. Namun ia yakin temuantemuannya adalah hasil riset berbasis evidence.

 

Terlepas pada awalnya gandrung mendalami occultism, sesuatu yang lazim pada era saat itu, Newton menghasilkan karya seminal saintifik: Mathematical Principles of Natural Philosophy (1687). Karya ini menjadi salah satu tonggak penting sejarah sains.

 

Memaparkan tiga hukum fisika yang menjadi basis bagi Teori Gravitasi dan pengukuran pergerakan planet-planet. Newton membawa paradigma baru: dunia yang mekanistis dan bisa diukur dengan memakai hukum fisika dan matematika (calculus). Perhitungan dan pengukuran secara matematis menggantikan dugaan, spekulasi, dan hipotesis.

 

Ungkapan Newton yang terkenal Hypotheses non fingo (“saya tidak terpaku pada hipotesis”) adalah kredo saintifiknya. Hipotesis apapun tentang dunia fisika, metafisika, occultis, atau mekanis, harus dibuktikan melalui eksperimentasi. Newton melanjutkan era revolusi saintifik, yang dimulai para saintis pendahulunya, seperti Galileo Galilei, Nicolaus Copernicus, Johannes Keppler.

 

Selain Newton, saintis yang dikenal religius adalah Gregor Mendel. Seorang biarawan Katolik, Ordo Agustinian, yang mengisi waktu luangnya untuk bereksperimen dengan  tanaman dan serangga— selain berdoa. Karyanya Experiments on Plant Hybrids adalah salah satu tonggak penting genetika modern, dan menempatkan dia sebagai Bapak ilmu genetika.

 

Mendel bukan cuma mengamati atau bereksperimen, namun juga secara kreatif merancang skema perkawinan silang (hibridisasi) pada 28.000 tanaman kacang. Semula ia bereksperimen dengan kucing, namun gereja melarang, dan menggantinya dengan tanaman dan lebah. Ketika itu, tahun 1860-an, ia mengidentifikasi adanya “faktor tak terlihat” (kemudian dinamai “gen”) yang bertanggung jawab mewariskan ciri-ciri spesifik ke keturunan. Ia sendirian menemukan hukum yang mengatur genetik yang diwariskan (Hukum Mendel), yang berlaku untuk semua makhluk hidup. Temuannya kemudian memperkuat Teori Evolusi Darwin dan sains genetika molekuler.

 

Charles Darwin dikenal sebagai saintis yang mengundang konotasi “penghujat agama” karena Teori Evolusi-nya. Namun Ia sebenarnya penganut agama Protestan non - conformist , dan pernah bercita-cita menjadi pendeta. Ia sangat berminat mempelajari asal muasal alam, dan mendalami theologi alam (natural theology). Ia berprinsip keberadaan dan tindakan Tuhan dapat dilihat dalam fenomena alam dan dinalar melalui hukum alam. Saat berusia 22 Ia ikut ekspedisi kapal Beagle, dengan harapan bisa melihat kawasan kepulauan tropis, keindahan alam ciptaan Tuhan, sebelum menjadi pendeta.

 

Saat berangkat untuk berlayar Darwin masih seorang religius ortodoks yang berhasrat  melihat “kerja keilahian menciptakan alam”. Namun menjelang berakhirnya ekspedisi pelayaran ia mulai meragukan kisah penciptaan sebagaimana tertulis di Alkitab. Ia melihat beragam spesies hewan yang secara fisiologis berubah. Ia mulai berhipotesis adanya transmutasi hewan melalui proses seleksi alam. Setelah tersedia cukup bukti ia menguraikan teorinya dalam buku On The Origin of Species (1859). Sebuah paparan temuan saintifik yang menjadi fondasi ilmu biologi evolusioner, dikenal sebagai Teori Evolusi Darwin.

 

Paparan sekilas pencapaian tiga saintis, Newton, Mendel, dan Darwin di atas sekdar sebagai ilustrasi untuk menunjukkan validitas  premis “sains tak bisa sepenuhnya dilepaskan dari agama—secara historis.” Namun kaitan sejarah itu bersifat serendipities, alih-alih metodologis. Newton dengan keyakinan agamanya tertarik dengan okultisme, namun saat menulis Teori Gravitasi ia tidak menggunakan metode agama, namun memakai matematika—yang sama sekali tidak dikenal dalam Alkitab.

 

Mendel juga demikian. Hukum Genetika lahir bukan karena ia adalah seorang rahib Katolik, yang mendapat “inspirasi keilahian”, melainkan karena studi sains yang ia tekuni sebelumnya di universitas dan  sikap rasa ingin tahu yang besar pada kehidupan. Sama halnya dengan Darwin, paradigmanya berubah setelah mengobservasi bagaimana cara kerja alam. Ia mengurungkan niatnya menjadi pendeta setelah menyaksikan keragaman kehidupan yang dinamis, tidak statis sebagaimana tertulis di Alkitab.

 

Memang benar, sains tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari agama. Namun, agama jelas bukan penyebab atau faktor pendorong penemuan sains. Juga bukan raison d’ĂȘtre (alasan adanya (atau conditio sine qua non (kondisi yang menjadi sebab akibat yang harus terjadi) bagi munculnya teori sains. Dalam beberapa kasus Agama justru menghambat sains, khususnya temuan sains yang merongrong atau bertentangan dengan teks Alkitab. Agama dapat dianalogikan seperti kondisi cuaca untuk riset sains. Saintis akan tetap bekerja mengobservasi, meneliti dan bereksperimen untuk mendapatkan penjelasan soal dunia. Tidak soal kondisi cuaca saat itu: hujan, mendung, berawan, atau cerah.

 

Disarikan dari Tulisan Ulil Abshar Abdalla dan Goenawan Mohammad serta beberapa penulis lainnya dalam Buku “Sains, Filsafat, Agama dan Pandemi.”

 

Agar Pembaca dapat mengulas tema di atas lebih dalam, kami lampirkan versi luring (offline) pdf pada link di bawah ini.

Sains,Filsafat, Agama dan Pandemi pdf

Literasi Pandemi Covid-19 Perspektif Fisika Medis pdf

Agama dan Sains_Ulil Abshar Abdalla pdf

Pandemi Untuk Pencerahan_Sutiman Bambang Sumitro_Guru Besar UB Malang pdf

0 komentar:

Posting Komentar

Senata.ID -Strong Legacy, Bright Future

Senata.ID - Hidup Bermanfaat itu Indah - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat & sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer