Pages

Minggu, 07 November 2021

Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik

 

Sumber gambar: geotimes

Syiah, Sektarianime, dan Geopolitik: Suatu Pengantar1

Peningkatan gejala sektarianisme di Indonesia memasuki tahap yang mengkhawatirkan dan berpotensi mengoyak kebinekaan. Kampanye anti Syiah yang marak di media sosial misalnya mengalami peningkatan selepas tahun 2013. Menurut BBC Indonesia, pada tahun 2011-2012 jumlah tagar #antiSyiah hanya puluhan dan bertambah menjadi ratusan pada 2013. Namun pada tahun 2015 (Januari-Oktober), BBC Indonesia mencatat penggunaan tagar #antiSyiah sudah lebih dari 39.000 kali. Sementara kata ‘Syiah’ dikicaukan lebih dari 530.000 kali. Namun yang mengkhawatirkan, gerakan-gerakan sektarian ini tidak sekedar terjadi secara verbal dan tulisan yang tertuang dalam status atau cuitan di media sosial, namun mewujud dalam gerakan di lapangan. Sejak tahun 2012, sejumlah kecil masyarakat mendeklarasikan sebuah organisasi yang bernama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di beberapa kota di Indonesia. Kasus kekerasan yang secara eksplisit terjadi terhadap kelompok Syiah adalah kasus penyerangan di Sampang yang menyebabkan kelompok ini mengalami pengusiran dari tanah kelahirannya dan harus tinggal di Wisma Puspa Argo, Sidoarjo.

 

Fenomena memburuknya hubungan Sunni dan Syiah ini tak lepas dari situasi geopolitik di Timur Tengah. Dimulai saat Arab Spring berhembus dari Tunisia, terus melaju cepat ke Libya, Mesir, dan berlanjut ke Suriah. Tidak ada yang mampu menduga bahwa Arab Spring akan mengalami kebuntuan saat konflik sipil terjadi di Libya dan Suriah. Di Suriah, rezim Bashar Assad menghadapi serangan oposisi bersenjata yang ingin mendongkel kekuasaannya. Namun, fakta bahwa Assad yang menganut Alawi (aliran sempalan Syiah yang konsep teologinya sudah sangat berbeda dari Syiah Imamiyah) dan oposisi yang berlatar belakang Sunni disimplifikasi oleh beberapa kalangan menjadi Syiah menindas Sunni. Kelompok anti-Syiah memang memilih untuk menyebut aliran Alawi dengan nama Syiah Nusyairiyah, demi mendiskreditkan kelompok Syiah secara umum. Narasi inilah yang terus berkembang dan dihembuskan hingga ke Indonesia. Demi solidaritas Sunni, anak-anak muda Indonesia mendaftarkan diri bergabung dengan oposisi-oposisi bersenjata di Suriah. Ketika ISIS dideklarasikan, sebagian anak-anak muda ini bergabung atau minimal bersimpati dengan ISIS.

 

Kontestasi kekuatan regional, yaitu Arab Saudi dan Iran, memainkan peran penting dalam membangun sentimen Sunni dan Syiah. Arab Saudi berkepentingan untuk mendongkel kekuasaan Assad untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. Dengan dukungan sekutunya, salah satunya Amerika Serikat, Arab turut melatih dan mempersenjatai oposisi Suriah untuk menentang Assad. Sebaliknya, Iran berkepentingan untuk mempertahankan Assad demi aliansi Teheran-Baghdad-Damaskus-Beirut. Pertarungan politik di kedua kekuatan tradisional Timur Tengah mempengaruhi berkobarnya polemik teologis Sunni-Syiah.

 

Satu dekade yang lalu, Vali Nasr (2006) memprediksi bahwa masa depan dunia Islam akan dipengaruhi oleh konflik yang terjadi di internal umat Islam, utamanya Sunni dan Syiah. Prediksi Nasr nampaknya terbukti. Sebagai contoh, narasi konflik Sunni-Syiah kental terasa saat terjadi tragedi Mina di musim haji tahun 2015 lalu yang menyebabkan lebih dari seribu jamaah haji dari berbagai negara wafat. Saat masyarakat menganalisis penyebab kecelakaan dan mengkritisi cara penanganan korban dan manajemen pengelolaan haji secara keseluruhan, seperti biasa masyarakat terbelah antara yang pro dan kontra. Yang tidak lazim, pro pemerintah Arab Saudi tiba-tiba mendapat label Sunni, dan yang kontra mendapat label Syiah karena dianggap mendukung sikap Iran yang kebetulan warganya banyak menjadi korban Mina kali itu. Pelabelan sektarian secara intensif ini merupakan hal baru di Indonesia.

 

Memburuknya konflik geopolitik di Timur Tengah pararel dengan situasi di tanah air. Sejak tahun 2000, kelompok Syiah di Indonesia mengalami berbagai tindak kekerasan. Eskalasinya mulai meningkat sejak tahun 2006. Mulai dari rumah dan pesantren yang dibakar, hingga diserang secara fisik yang mengancam hidup mereka. Konflik besar pertama terjadi pada tanggal 29 Desember 2011 di Desa Blu’uran yang mengakibatkan beberapa rumah dirusak. Puncak dari kekerasan tersebut terjadi pada 26 Agustus 2012 di Desa Nang-Ker-Nang yang mengakibatkan 1 orang tewas, 10 orang terluka, dan 37 rumah terbakar. Amnesti Internasional menyebut gejala yang mengancam Syiah sebagai keberlanjutan dari diskriminasi kepada kelompok minoritas di Indonesia (2013).

 

165 orang Syiah termasuk 48 anak-anak tinggal dalam situasi yang mengkhawatirkan di sebuah komplek olah raga di Sampang, kemudian dipindahkan ke Sidoarjo sejak 2012. Saat proses relokasi, tidak kurang 64 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 224 jiwa, 20 balita, 103 anak-anak usia sekolah, 90 orang dewasa, dan sembilan orang lanjut usia atau berusia di atas 60 tahun dipaksa pindah ke rusunawa Puspo Argo, Sidoarjo, Jawa Timur setelah kampung mereka diserang dan dimusnahkan. Sentimen sektarian antara Sunni dan Syiah bukan fenomena baru untuk konteks Timur Tengah dan sebagian Asia (utamanya Asia Selatan). Namun di Indonesia, sentimen sektarian merupakan fenomena baru (Formichi, 2013).

 

Tak lama setelah konflik tersebut, MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa sesat Syiah pada tahun 2012. Namun fatwa sesat MUI Jawa Timur ini mendapat kritik dan penolakan dari ormas besar seperti Muhammadiyah dan NU. Bahkan MUI pusat pun tidak menyetujui fatwa sesat tersebut. Berdasarkan kesepakatan jumhur Ulama sedunia melalui Deklarasi Amman (Amman Message) tahun 2005, dinyatakan bahwa Syiah masih bagian dari Islam dan masih mengucapkan dua kalimat syahadat. Walaupun menolak fatwa sesat Syiah MUI Jawa Timur, nyatanya sebagian kalangan di MUI pusat menerbitkan buku yang berjudul “Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia” (2013) yang disusun oleh tim penulis MUI Pusat. Buku ini seringkali diklaim sebagai pandangan resmi MUI terkait aliran atau mazhab Syiah. Namun secara resmi MUI Pusat menyatakan bahwa buku tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan MUI atas kesesatan Syiah.

 

Meski demikian buku-buku ini sudah tersebar luas di tengah masyarakat dan dibedah oleh narasumber yang umumnya merupakan anggota MUI pada seminar-seminar yang diselenggarakan di berbagai kota. Tidak aneh bila kemudian kaum awam menganggap bahwa buku ini merupakan pandangan resmi MUI atas Syiah. Masifnya distribusi panduan MUI pusat serta fatwa sesat yang dikeluarkan oleh MUI Jawa Timur berkontribusi pada perubahan sentimen masyarakat terhadap Syiah.

 

Selain itu, faktor media cukup besar dalam membangun persepsi publik mengenai Syiah. Terlebih, dengan semakin berkembangnya media sosial, persebaran isu Syiah semakin meluas. Buya Syafi’ingnya, isu Syiah yang banyak berkembang di media sosial didominasi oleh informasi-informasi yang tidak berdasarkan informasi yang valid dan sumber yang reliable. Hal ini bisa dilihat dari maraknya posting-posting tulisan, foto, meme dan pendapat yang cenderung tidak benar dan bahkan menjurus fitnah. Situasi ini berpotensi memperburuk kondisi harmoni di tengah masyarakat, khususnya di kalangan internal umat Islam.

 

Di ranah gerakan anti Syiah, kita melihat mulai bermunculan aliansi-aliansi atau gerakan yang memobilisasi massa untuk mendeklarasikan bahaya Syiah dan kesesatannya. Deklarasi anti Syiah dilakukan di berbagai kota-kota besar dalam bentuk deklarasi-deklarasi yang melibatkan masyarakat luas. Hal ini terjadi, misalnya, di Jawa Barat dengan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang melaksanakan deklarasi anti Syiah di kota-kota utama Jawa Barat seperti Bandung, Tasikmalaya, Garut, Subang hingga Cirebon. Dalam deklarasinya, tak jarang pencatutan nama lembaga Islam lain pun dilakukan, sebagaimana yang dialami oleh Muhammadiyah dan NU.

 

Kian runcingnya sentimen sektarianisme Sunni-Syiah di Indonesia mengundang keprihatinan berbagai pihak. Misalnya saja, Muhammadiyah mengeluarkan rekomendasi penting di Muktamar ke 47 Muhammadiyah di Makassar, 3-7 Agustus 2015 lalu. Salah satu rekomendasi pentingnya adalah “Muhammadiyah memandang berbagai perbedaan dan keragaman sebagai sunnatullah. Untuk mencegah semakin meluasnya konflik antara kelompok Sunni-Syiah di Indonesia, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intra umat Islam serta mengembangkan pemahaman tentang perbedaan keagamaan di antaranya dengan menyusun fikih khilafiyah meminimalisir konflik horizontal.”

 

Dengan latar situasi politik sektarian kontemporer yang memperburuk relasi ukhuwah umat Muslim dan berdasar rekomendasi Muktamar Muhammadiyah tersebut, Jurnal Maarif Vol 10 No.2 Desember 2015 akan mengangkat tema mengenai “Syiah, Sektarianisme, dan Geopolitik.” Edisi ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan tema tersebut, diantaranya adalah: Bagaimana situasi geopolitik global turut berkontribusi bagi munculnya ketegangan antara Sunni dan Syiah? Bagaimana pengaruh geopolitik di Timur Tengah terhadap relasi Sunni-Syiah di Indonesia? Bagaimana sesungguhnya ideologi Syiah (wilayatul faqih, marjaiyyah) di Indonesia? Apakah relasi Sunni dan Syiah di Indonesia selalu berada dalam ketegangan-ketegangan? Apakah apakah ada contoh komunitas Sunni-Syiah yang bisa hidup berdampingan dengan damai? Apakah komunitas Syiah di Indonesia itu monolitik? Apakah ada varian-varian lain Syiah yang tidak banyak muncul di ruang publik? Bagaimana Syiah di Asia Tenggara? Bagaimana sesungguhnya peran Tajul Muluk dalam perkembangan Syiah di Sampang, berikut konflik yang terjadi dengan masyarakat? Bagaimana hubungan Syiah dengan Baha’I? Bagaimana mendialogkan antara Sunni dan Syiah di Indonesia?

 

1Dikutip dari tulisan Ahmad Imam Mujadid Rais dalam Pengantar Jurnal Ma’arif: Arus Pemikiran Islam dan Sosial

 

Kotak Sunni, Kotak Syiah, Tinggalkan Kotak

 

Jika dihitung sejak tahun 657 M, saat Perang Shiffin berkecamuk, yang kemudian menciptakan kotak-kotak polarisasi umat Islam sampai sekarang, berarti sudah berlangsung 1.359 tahun sejarah Muslim terpasung dalam kotak-kotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu.

 

Suniisme, Syi’iisme, plus Kharijisme seolah telah menjadi sesembahan baru bagi dunia Islam dengan “memaksa” Tuhan berpihak kepada kotak-kotak itu. Alangkah cerobohnya sikap yang serupa ini, tetapi tetap saja tidak disadari. Umat Islam sedunia selama puluhan abad telah terseret oleh sengketa elit Arab itu.

 

Pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak merasa ditipu oleh kotak-kotak yang tidak ada kaitannya dengan Alquran dan Nabi Muhammad SAW itu? Kesadaran sejarah umat Islam amatlah lemah, termasuk Buya Syafi’i, padahal sudah mengalami kajian tingkat tinggi.

 

Sewaktu mengambil program S3 dalam pemikiran Islam di Universitas Chicago, 1979-1982, Buya Syafi’i juga belum sadar bahwa kotak-kotak itu adalah sumber bencana yang bertanggung jawab bagi hancurnya persaudaraan umat beriman yang demikian tegas dan gamblang diajarkan Alquran. Dalam perjalanan waktu dengan usia yang semakin menua, Buya Syafi’i sampai kepada sebuah kesimpulan: jika umat Islam mau menata kehidupan kolektifnya secara benar berdasarkan agama, tidak ada jalan lain, kecuali kotak-kotak pemicu perbelahan itu harus ditinggalkan sekali dan untuk selama-lamanya.

 

Selama Al-Quran dan Sunah nabi yang sahih selalu dijadikan pedoman utama tidak ada yang harus dicemaskan jika kita semua siap mengucapkan selamat tinggal kepada kotak-kotak penuh darah dan dendam kesumat itu. Ketegangan hubungan antara Iran dan Arab Saudi sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari kotak-kotak itu, sekalipun nasionalisme juga merupakan faktor penting.

 

Adalah nonsens jika kedua pihak berpegang kepada agama dalam makna yang benar. Agama dipakai hanyalah sebatas retorika politik untuk tujuan duniawi. Fenomena semacam ini telah berlaku berkali-kali sepanjang sejarah Muslim. Adapun sikap para aktivis yang membela pihak-pihak yang bersengketa dengan dalil-dalil agama, bagi Buya Syafi’i, boleh jadi karena sekrup ubun-ubunnya lagi longgar, terlepas dari kawalan wahyu.

 

Penganut Sunnisme, penganut Syiahisme, penganut Kharijisme, yang seluruhnya bercorak Arab itu dengan klaim kebenaran masing-masing semestinya mau bercermin dengan cerdas dan tulus kepada realitas umat yang terkapar berkali[1]kali dalam berbagai tikungan sejarah yang menyengsarakan. Buya Syafi’i sungguh gagal memahami mengapa berhala suniisme, syi’iisme, kharijisme masih saja dijadikan Tuhan oleh mayoritas umat Islam di muka bumi hingga sekarang ini.

 

Ada apa dengan otak kita, ada apa dengan hati kita? Atau Al-Quran mari kita buang sama sekali dan kita menjadi umat yang tuna identitas? Coba simak baik-baik makna ayat ini, “Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini menjadi sesuatu yang tidak dihiraukan’.” (QS al-Furqan [25]: 30).

 

Buya Syafi’i khawatir bahwa ayat ini tidak hanya dialamatkan kepada kafir Quraisy sebagaimana dipahami oleh hampir semua mufasir, tetapi juga kepada siapa saja yang tidak lagi menjadikan Alquran sebagai pedoman pertama dan utama dalam mengatur kehidupan kolektif mereka, seperti yang kita derita sekarang ini.

 

Ajaibnya, umat yang tercabik selama berabad-abad itu telah mengidap amnesia kolektif tentang bencana sejarah itu. Mungkin sudah ratusan ribu halaman buku yang ditulis oleh masing masing-masing pihak untuk membela keberadaan kotak-kotak yang menyesatkan itu dengan dalil-dalil agama yang terlepas dari benang merah Al-Quran.

 

Sekiranya kesadaran keagamaan Buya Syafi’i sudah berada pada tingkat seperti sekarang ini puluhan tahun yang lalu, Buya Syafi’i akan perdebatkan masalah penting ini dengan almarhum Fazlur Rahman (guru Buya Syafi’i di Chicago); dengan almarhum H Agus Salim, pemikir Muslim Indonesia; dengan almarhum Hamka, mufasir yang banyak mengilhami cara berpikir Buya Syafi’i.

 

Kotak-kotak pemicu sengketa ini tidak mungkin dilenyapkan jika analisis kesejarahan kita tidak dibentuk oleh Alquran dengan bantuan ‘aqlun shahih wa qalbun salim (otak yang sehat dan benar dan hati yang tulus dan bening).

 

Dua kekuatan intelektual dan spiritual dalam memahami kitab suci di atas sering benar binasa menghadapi konflik politik dan teologis melanda komunitas Muslim. Tragedi Baghdad pada 1258 saat pasukan Hulagu Khan memorakporandakan ibu kota Kerajaan Abbasiyah patut kita rekamkan kembali sebagai pelajaran moral bagi umat Islam sedunia, jika saja mereka punya hati untuk itu.

 

Panglima Mongol itu rupanya sudah tahu peta perbelahan Sunni-Syiah di Irak untuk dieksploitasi. Raja Abbasiyah terakhir, Musta’shim, dikenal sebagai penguasa Sunni yang selalu menghina kelompok Syi’i, mempermainkan iman mereka di muka publik. Sebagai raja peminum, Musta’shim lebih suka bergaul dengan pemusik dan para badut tinimbang dengan para penyair dan filosuf.

 

Karena menyadari raja Sunni ini mau diserang Hulagu, sebagian tokoh Syi’i malah memberi fasilitas kepada pasukan Mongol yang dengan sukarela membantu mereka dalam menguasai beberapa kota dalam perjalanan menuju Baghdad. Dalam situasi kritikal ini, Perdana Menteri a-Alkamzi, seorang penganut Syi’i, mengkhianati sang raja dengan memihak Hulagu. Hulagu berjanji tidak akan menghancurkan tempat-tempat suci kaum Syi’i di Najaf dan Karbala.

 

Apa yang kemudian berlaku? Serangan atas Baghdad terjadi pada Januari 1258. Saat pasukan Cina sebagai bagian dari tentara Hulagu menerobos dinding luar di bagian timur Baghdad, al-Musta’shim bersama pasukannya keluar sambil memberi tawaran untuk berunding, tetapi ditolak Hulagu.

 

Selama tujuh hari Baghdad dikepung dan kemudian membunuh sekitar 1 juta penduduknya, baik penganut Sunni maupun penganut Syi’i, karena Hulagu ternyata tidak bisa membedakan mereka. Pemihakan kelompok Syi’i kepada pasukan Mongol menjadi sia-sia. Semuanya binasa di Baghdad. Maka jadilah air Sungai Tigris berubah menjadi merah karena darah Muslim: Sunni dan Syi’i. (Lihat Tarek Fatah, Chasing A Mirage: The Tragic Illusion of An Islamic State. Mississauga, Ontario: John Wiley & Sons, 2008, hlm 232).

 

Dengan hancurnya Baghdad yang juga diberi nama Madinat al-Salam (Kota Perdamaian), maka Kerajaan Abbasiyah yang renta dalam usia sekitar 500 tahun kini terbenam ke dalam museum sejarah untuk selama-lamanya. Masihkah akan dilanjutkan juga perseteruan Sunni-Syi’i untuk tahun-tahun yang akan datang? Di abad modern, keberingasan pasukan Mongol itu dilanjutkan oleh Amerika dan sekutunya.

 

Sejarah Syi’i adalah sejarah tragedi demi tragedi. Karena selama berabad-abad dikuyo-kuyo penguasa Sunni, kaum Syi’i lalu mengembangkan doktrin taqiyah (penyamaran identitas) demi kelangsungan hidup di lingkungan kaum Sunni yang memusuhi mereka.

 

Salah satu tragedi pada periode lebih awal ialah terbunuhnya al-Hussain bin Ali pada 680 di Karbala (Irak) di tangan tentara Yazid bin Muawiyah. Baik golongan Sunni maupun golongan Syi’i sama-sama mengutuk pembunuhan keji atas diri cucu nabi ini.

Bagi kaum Syi’i, Karbala dipercaya sebagai tempat suci sampai hari ini. Pembunuhan al-Hussain ini jelas sebuah kebiadaban yang tidak dapat dimaafkan. Namun menjadikan tragedi yang memicu dendam sejarah ini sebagai pembenar untuk merumuskan doktrin teologi dan politik hanyalah akan membunuh rasionalitas dalam penulisan sejarah.

 

Perseteruan Sunni-Syi’i ini belum juga padam dalam bilangan abad. Jika kita boleh berandai di abad ke-21 ini, maka kejadian inilah yang bakal berlaku: sekiranya Arab Saudi diserang Israel, tidak mustahil Iran akan membantu negara Zionis itu. Begitu pula sebaliknya: jika Iran diserang Israel, maka Arab Saudi akan berpihak kepada Israel.

 

Buya Syafi’i sampai kepada kesimpulan ini: baik sunnisme maupun syi’isme, seperti telah disebut terdahulu, tidak ada kaitannya dengan Alquran dan misi kenabian, kecuali jika dipaksakan secara ahistoris. Kotak-kotak ini amat bertanggung jawab bagi lumpuhnya persaudaraan umat beriman.

 

Maka, jika umat Islam di muka bumi memang mau punya hari depan yang diperhitungkan manusia lain, jalan satu-satunya adalah agar kita keluar dari kotak Sunni dan kotak Syi’i itu karena semuanya itu adalah hasil dari pabrik sejarah sekitar 25 tahun sesudah Nabi wafat.

2 Dikutip dari tulisan Buya Syafi'i Ma'arif

 

Dikutip dari antologi artikel dalam jurnal yang berjudul, “Syiah, Sektarianime, dan Geopolitik: Suatu Pengantar

Berikut agar pembaca dapat mengulas lebih kami sertakan versi luring/offline pada link di bawah ini.

Syiah, Sektarianime, dan Geopolitik: Suatu Pengantar pdf

0 komentar:

Posting Komentar

Senata.ID -Strong Legacy, Bright Future

Senata.ID - Hidup Bermanfaat itu Indah - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat & sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -Pramoedya Ananta Toer